KEPRIBADIAN PESERTA DIDIK
Disusun Guna Memenuhi Tugas Akhir Semester Ganjil
Mata Kuliah : Sosiologi dan Antropologi Dakwah
DosenPengampu : Masudi, S. Fil.I M.A
DisusunOleh :
Ika Yuliyaning tiyas (1740210067)
KPI-B3
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGRI KUDUS
DAKWAH DAN KOMUNIKASI
KOMUNIKASI PENYIARAN ISLAM
2018
BAB I
PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG MASALAH
Manusia adalah makhluk yang sulit di pahami karena keunikannya. Dengan keunikannya manusia adalah makhluk yang berbeda dari makhluk yang lain. Bagaimanapun sulitnya manusia tak pernah berhenti berusaha menemukan jawaban yang dicarinya dan selalu mencari tahu dan tidak pernah puas dengan pengetahuan-pengetahuan yang diperolehnya, termasuk pengetahuan tentang dirinya sendiri atau sesamanya. Sekian banyak upaya yang telah diarahkan untuk memahami manusia tetapi tidak semua upaya membawa hasil, namun upaya pemahaman tentang manusia tetap memiliki arti penting dan tetap harus di laksanakan. Bisa dikatakan bahwa kualitas hidup manusia, tergantung kepada peningkatan pemahaman kita tentang manusia.
Kepribadian adalah gambaran cara seseorang bertingkah laku terhadap lingkungan sekitanya, yang terlihat dari kebiasaan berfikir, sikap dan minat, serta pandangan hidupnya yang khas untuk mempunyai keajegan. Karena dalam kehidupan manusia sebagai individu ataupun makhluk social, kepribadian senantiasa mengalami warna-warni kehidupan.Ada kalanya senang, tentram, dan gembira.Akan tetapi pengalaman hidup membuktikan bahwa manusia juga kadang-kadang mengalami hal-hal yang pahit, gelisah, frustasi dan sebagainya.Ini menunjukan bahwa manusia mengalami dinamika kehidupan.
Kepribadian sangat mmencerminkan perilaku seseorang. Kita bisa tahu apa yang sedang diperbuat seseorang dalam situasi tertentu berdasarkan dpengalamn diri kita sendiri. Hal ini karena dalam banyak segi, setiap orang adalah unik, khas. Oleh karena itu kita membutuhkan sejenis kerangka acuan untuk memahami dan menjelaskan tingkah laku diri sendiri dan orang lain. Kita harus memahami definisi kepribadian serta bagaiman kepribadian itu terbentuk.Untuk itu kita membutuhkan teori-teori tingkah laku, teori kepribadian agar gangguan-gangguan yang biasa muncul pada kepribadian setiap individu dapat dihindari.
Mempelajari kepribadian merupakan hal yang menarik karena dinamika pengetahuan mengenai diri kita sendiri secara otomatis akan bertambah. Hal ini karena hakikatnya manusia adalah yang ada dan tumbuh berkembang dengan kepribadian yang menyertai setiap langkah dalam hidupnya.
RUMUSAN MASALAH
Apa pengertian kepribadian?
Apa faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan kepribadian?
Apa peranan sekolah dan keluarga dalam optimalisasi perkembangan kepribadian diusia anak dan remaja ?
Bagaimana menumbuhkan kepribadian seorang peserta didik?
TUJUAN PENULISAN
Untuk mengetahui pengertian kepribadian
Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan kepribadian
Untuk mengetahui peranan sekolah dan keluarga dalam optimalisasi perkembangan kepribadian diusia anak dan remaja
Untuk mengetahui pertumbuhan kepribadian seorang peserta didik
BAB II
PEMBAHASAN
PENGERTIAN KEPRIBADIAN
Para ahli biologi yang mempelajari dan membuat suatu deskripsi mengenai sistem organ suatu jenis spesies binatang, biasanya juga sekaligus mempelajari kelakuan binatang-binatang itu. Deskripsi mengenai pola-pola kelakuan binatang-binatang itu seperti kelakuan mencari makan, menghindari ancaman bahaya, menyerang musuh, beristirahat, mencari betina pada masa birahi, bersetubuh, mencari tempat untuk melahirkan, memelihara dan melindungi keturunannya dan sebagainya biasanya berlaku untuk seluruh spesies yang menjadi obyek perhatiannya.
Berbeda halnya dengan makhluk manusia yang dipelajari secara intensif hingga detail oleh para ahli biologi, anatomi, fisiologi, patologi dan para dokter, tetapi belum banyak diketahui pola-pola kelakuannya. Pola-pola kelakuan yang berlaku untuk seluruh jenis homo Sapiens hampir tidak ada, bahkan untuk semua individu manusia yang termasuk satu ras pun, seperti ras Mongoloid, ras Kaukasoid, ras Negroid, atau ras Australoid, tidak ada suatu sistem pola kelakuan yang seragam. Ini disebabkan karena kelakuan manusia homo Sapiens tidak hanya timbul dari dan ditemukan oleh sistem organik biologinya saja, tetapi sangat dipengaruhi dan ditentukan oleh akal dan jiwanya, sedemikian rupa sehingga variasi pola kelakuan antara seorang individu homo Sapiens dengan individu homo Sapiens lainnya, dapat sangat besar. Malahan, pola kelakuan tiap manusia secara individual sebenarnya unik dan berbeda. Karena itu para ahli antropologi, sosiologi dan psikologi yang mempelajari pola-pola kelakuan manusia ini juga tidak lagi bicara mengenai pola-pola kelakuan atau patterns of behavior dari manusia, tetapi mengenai pola-pola tingkah laku, atau pola-pola tindakan. Apabila seorang ahli antropologi, sosiologi atau psikolog berbicara mengenai pola kelakuan manusia, maka yang dimaksudnya adalah kelakuan dalam arti sangat luas yaitu kelakuan organisme manusia yang ditentukan oleh naluri, dorongan-dorongan, refleks-refleks atau kelakuan manusia yang tidak lagi dipengaruhi dan ditentukan oleh akal dan jiwanya.
Susunan unsur-unsur akal dan jiwa yang menentukan perbedaan tingkah laku atau tindakan dari tiap-tiap individu manusia itu disebut kepribadian atau personality. Definisi mengenai kepribadian tersebut masih sangat kasar sifatnya, dan tidak banyak berbeda dengan arti yang diberikan pada konsep itu pada kehidupan sehari-hari. Dalam bahasa populer istilah kepribadian juga berarti ciri-ciri watak seorang individu yang konsisten. Hal itu memberikan kepadanya suatu identitas sebagai individu yang khusus. Sedangkan dalam bahasa sehari-hari kita anggap bahwa seorang tertentu mempunyai kepribadian, memang yang biasanya kita maksudkan ialah bahwa orang tersebut mempunyai beberapa ciri watak yang diperlihatkannya secara lahir, konsisten, dan konsekuen dalam tingkah lakunya sehingga tampak bahwa individu tersebut memiliki identitas khusus yang berbeda dari individu-individu lainnya. Kalau definisi umum yang banyak menyerupai arti konsep dalam bahasa sehari-hari tersebut hendak kita pertajam, maka akan timbul banyak kesukaran. Hal itu sudah banyak dilakukan oleh para ahli psikologi yang memang merupakan tugas mereka, namun tidak ada satu definisi yang tajam dan seragam diantara para ahli psikologi yang berasal dari berbagai aliran khusus dalam ilmu psikologi. Konsep kepribadian itu rupa-rupanya adalah suatu konsep yang demikian luas sehingga merupakan suatu konstruksi yang tidak mungkin dirumuskan dalam satu definisi yang tajam tetapi mencakup keseluruhannya. Karena itu bagi kita yang belajar antropologi cukuplah kiranya kalau untuk sementara kita pergunakan saja dahulu definisi yang masih kasar itu. Sedangkan penggunaan definisi-definisi yang lebih tajam untuk analisis yang lebih mengkhusus dan mendalam kita serahkan kepada para ahli psikologi.
Ahli yang telah merumuskan definisi kepribadian berdasarkan paradigama yang mereka yakini dn focus analisis dari teori yang mereka berkembang. Berikut ini adalah pendapat beberapa ahli yang definisinya dapat dipakai acuan dalam mempelajari kepribadian:
Gordon W. W. Allport
Pada mulanya, Allport mendefinisikan kepribadian sebagai What a man really is, tetapi definisi tersebut dipandang tidak memadai lalu dia merevisinya. Definisi yang kemudian dirumuskan oleh Alport adalah kepribadian adalah organisasi dinamis dalam individu sebagai system psikofisis yang menentukan cara yang khas dalam menyesuaikan diri terhadap lingkungan.
Krech dan Crutchfield
David Krech dan Richard S. Crutchfield (1969) dalam bukunya Elements of Psychology merumuskan kepribadian, adalah integrasi dari semua karakteristik individu ke dalam suatu kesatuan unik yang menentukan dan dimodifikasi oleh usaha-usahanya dalam menyesuaikan diri terhadap lingkungan yang berubah terus-menerus.
Adolf Heuken S.J
Kepribadian adalah pola menyeluruh semua kemampuan, perbuatan serta kebiasaan seseorang, baik jasmani, mental, rohani, emosional maupun social.Semua ini telah ditata dalam caranya yang khas di bawah berbagai pengaruh dari luar.Pola ini terwujud dalam tingkah lakunya, dalam usaha menjadi manusia sebagaimana yang dikhendakinya.
Berdasarkan semua definisi tersebut, dapat disimpulkan pokok-pokok pengertian kepribadian sebagai berikut:
Kepribadian merupakan kesatuan yang kompleks, yang terdiri ats psikis, seperti inteligensi, sifat, sikap, minat, cita-cita dan sebagainya, serta aspek fisik, seperti bentuk tubuh, kesehatan jasmani, dan sebagainya.
Kesatuan dari kedua aspek tersebut berinteraksi dengan lingkungannya yang mengalami perubahan secara terus menerus dan terwujudlah pola tingkah laku yang khas atau unik
Kepribadian bersifat dinamis, artinya selalu mengalami perubahan, tetapi dalam perubahan tersebut terdapat pola-pola yang bersifat tetap
Kepribadian terwujud berkenaan dengan tujuan-tujuan yang ingin dicapai
Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan Kepribadian
Kepribadian itu berkembang dan mengalami perubahan-perubahan, tetapi di dalam perkembangan makin terbentuklah pola-pola yang tetap, sehingga merupakan ciri-ciri yang khas dan unik bagi setiap individu. Menurut Singgih D. Gunarsa, factor-faktor yang dapat mempengaruhi kepribadian seseorang adalah:
Factor Biologis, yaitu yang berhubungan dengan keadaan jasmani yang meliputi keadaan pencernaan, pernafsan, peresaran darah. Kelenjar kelenjar urat syaraf, dan lain-lain.
Factor social, yaitu masyarakat yakni manusia-manusia lain disekitar individu, adat istiadat, peraturan-peraturan, bahas, dan sebagainya yang berlaku dalam masyarakat itu
Factor kebudayaan, yaitu kebudayaan itu tumbuh dan berkembang didalam masyarakat dan tentunya kebudayaan dari tiap-tiap tempat yang berbeda akan berbeda pula kebudayaannya. Perkembangan dan pembentukan kepribadian dari masing-masing orang tidak dapat dipisahkan dari kebudayaan masyarakat dimana anak itu dibesarkan
Sedang menurut Husain Mazhari, factor-faktor yang membentuk kepribadian anak ada empat, yaitu :
Peranan cinta kasih dalam pembinaan kepribadian
Tidak menghina dan mengurangi hak anak
Perhatian pada perkembangan kepribadian
Menghindari penggunaan kata kotor
Masa kanak-kanak adalah masa yang paling peka bafi proses pembentukan kepribadian seorang yang akan mewarnai sikap, perilaku, dan pandangan hidupnya kelak dikemudian hari. Sedangkan, perkembangan kepribadian anak itu sendiri, dopengaruhi oleh lingkungan tempat anak itu hidup dna berkembang. Diantara factor lingkungan yang paling berpengaruh bagi perkembangan kepribadian anak adalah orang tua yang mengasuh dan membimbingnya beserta suasana kehidupan yang dibina. Dalam konteks lingkungan keluarga inilah, maka kehadiran orang tua akan mempengaruhi dan mewarnai proses pembentukan kepribadian anak selanjutnya.
Menurut Ngalim Purwanto ada beberapa alasan pentingnya orang tua, terutama ibu dan ayah bagi pembentukan kepribadian anak, yakni:
Pengaruh itu merupakan pengalaman yang pertama-tama.
Pengaruh yang diterima anak itu batas dan jumlahnya.
Intensitas pengaruh itu tinggi karena berlangsung terus menerus siang dan malam.
Umumnya pengaruh itu diterima dalam suasana aman serta bersifat intim dan bernada emosional.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa kepribadian anak dipengaruhi oleh banyak factor, dan salah satunya ialah peranan orang tua dalam rangka membimbing, mengarahkan, dan memberikan jalan keluar terhadap permasalahan yang sedang dihadapi oleh anak, karena orang tua merupakan orang yang paling dekat dengan anak-anak sehingga akan mudah untuk memahami kepribadiannya.
PERANAN SEKOLAH DAN KELUARGA DALAM OPTIMALISASI PERKEMBANGAN KEPRIBADIAN DI USIA ANAK DAN REMAJA
Pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara keluarga masyarakat dan pemerintah. Sehingga orang tua tidak boleh menganggap bahwa pendidikan anak hanyalah tanggung jawab sekolah. Pendidikan merupakan suatu usaha manusia untuk membina kepribadiannya agar sesuai dengan norma-norma atau aturan di dalam masyaratakat. Setiap orang dewasa di dalam masyarakat dapat menjadi pendidik, sebab pendidik merupkan suatu perbuatan sosial yang mendasar untuk petumbuhan atau perkembangan anak didik menjadi manusia yang mampu berpikir dewasa dan bijak.
Orang tua sebagai lingkungan pertama dan utama dimana anak berinteraksi sebagai lembaga pendidikan yang tertua, artinya disinilah dimulai suatu proses pendidikan. Sehingga orang tua berperan sebagai pendidik bagi anak-anaknya. Lingkungan keluarga juga dikatakan lingkungan yang paling utama, karena sebagian besar kehidupan anak di dalam keluarga, sehingga pendidikan yang paling banyak diterima anak adalah dalam keluarga. Menurut Hasbullah, dalam tulisannya tentang dasar-dasar ilmu pendidikan, bahwa keluarga sebagai lembaga pendidikan memiliki beberapa fungsi yaitu fungsi dalam perkembangan kepribadian anak dan mendidik anak dirumah; fungsi keluarga/orang tua dalam mendukung pendidikan di sekolah.
Fungsi keluarga dalam pembentukan kepribadian dan mendidik anak di rumah:
Sebagai pengalaman pertama masa kanak-kanak menjamin kehidupan emosional anak menanamkan dasar pendidikan moral anak memberikan dasar pendidikan sosial meletakan dasar-dasar pendidikan agama bertanggung jawab dalam memotivasi dan mendorong keberhasilan anak.
Memberikan kesempatan belajar dengan mengenalkan berbagai ilmu pengetahuan dan keterampilan yang berguna bagi kehidupan kelak sehingga ia mampu menjadi manusia dewasa yang mandiri.
Menjaga kesehatan anak sehingga ia dapat dengan nyaman menjalankan proses belajar yang utuh.
Kebahagiaan dunia dan akhirat dengan memberikan pendidikan agama sesuai ketentuan Allah Swt, sebagai tujuan akhir manusia.
Fungsi keluarga/ orang tua dalam mendukung pendidikan anak di sekolah :
Orang tua bekerjasama dengan sekolah, sikap anak terhadap sekolah sangat di pengaruhi oleh sikap orang tua terhadap sekolah, sehingga sangat dibutuhkan kepercayaan orang tua terhadap sekolah yang menggantikan tugasnya selama di ruang sekolah.
Orang tua harus memperhatikan sekolah anaknya, yaitu dengan memperhatikan pengalaman-pengalamannya dan menghargai segala usahanya.
Orang tua menunjukkan kerjasama dalam menyerahkan cara belajar di rumah, membuat pekerjaan rumah dan memotivasi dan membimbimbing anak dalam belajar.
Orang tua bekerjasama dengan guru untuk mengatasi kesulitan belajar anakorang tua bersama anak mempersiapkan jenjang pendidikan yang akan dimasuki dan mendampingi selama menjalani proses belajar di lembaga pendidikan.
Untuk dapat menjalankan fungsi tersebut secara maksimal, sehingga orang tua harus memiliki kualitas diri yang memadai, sehingga anak-anak akan berkembang sesuai dengan harapan. Artinya orang tua harus memahami hakikat dan peran mereka sebagai orang tua dalam membesarkan anak, membekali diri dengan ilmu tentang pola pengasuhan yang tepat, pengetahuan tentang pendidikan yang dijalani anak, dan ilmu tentang perkembangan anak, sehingga tidak salah dalam menerapkan suatu bentuk pola pendidikan terutama dalam pembentukan kepribadian anak yang sesuai denga tujuan pendidikan itu sendiri untuk mencerdasakan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan YME dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.
Pendampingan orang tua dalam pendidikan anak diwujudkan dalam suatu cara-cara orang tua mendidik anak. Cara orang tua mendidik anak inilah yang disebut sebagai pola asuh. Setiap orang tua berusaha menggunakan cara yang paling baik menurut mereka dalam mendidik anak. Untuk mencari pola yang terbaik maka hendaklah orang tua mempersiapkan diri dengan beragam pengetahuan untuk menemukan pola asuh yang tepat dalam mendidik anak.
POLA ASUH OTORITATIVE (OTORITER)
Cenderung tidak memikirkan apa yang terjadi di kemudian hari ,fokus lebih pada masa kini. Untuk kemudahan orang tua dalam pengasuhan. Menilai dan menuntut anak untuk mematuhi standar mutlak yang ditentukan sepihak oleh orang tua. Pola asuh otoriter terhadap perilaku belajar anak :
Anak menjadi tidak percaya diri, kurang spontan ragu-ragu dan pasif, serta memiliki masalah konsentrasi dalam belajar.
Ia menjalankan tugas-tugasnya lebih disebabkan oleh takut hukuman.
Di sekolah memiliki kecenderungan berperilaku antisosial, agresif, impulsive dan perilaku mal adatif lainnya.
Anak perempuan cenderung menjadi dependen
POLA ASUH PERMISIVE (PEMANJAAN)
Segala sesuatu terpusat pada kepentingan anak, dan orang tua/pengasuh tidak berani menegur, takut anak menangis dan khawatir anak kecewa. Efek pola asuh permisif terhadap perilaku belajar anak :
Anak memang menjadi tampak responsif dalam belajar, namun tampak kurang matang (manja), impulsive dan mementingkan diri sendiri, kurang percaya diri (cengeng) dan mudah menyerah dalam menghadapi hambatan atau kesulitan dalam tugas-tugasnya, jarang perilakunya disekolah menjadi agresif.
POLA ASUH INDULGENT (PENELANTARAN)
Menelantarkan secara psikis, kurang memperhatikan perkembangan psikis anak, anak dibiarkan berkembang sendiri, orang tua lebih memprioritaskan kepentingannya sendiri karena kesibukan.
Efek pola asuh indulgent terhadap perilaku belajar anak :
Anak dengan pola asuh ini paling potensial telibat dalam kenakalan remaja seperti penggunaan narkoba, merokok diusia dini dan tindak kriminal lainnya.
Impulsive dan agresif serta kurang mampu berkonsentrasi pada suatu aktivitas atau kegiatan.
Anak memiliki daya tahan terhadap frustrasi rendah.
4. POLA ASUH AUTORITATIF (DEMOKRATIS)
Menerima anak sepenuh hati, memiliki wawasan kehidupan masa depan yang dipengaruhi oleh tinakan-tidakan masa kini, memprioritaskan kepentingan anak, tapi tidak ragu-ragu mengendalikan anak, membimbing anak kearah kemandirian, menghargai anak yang memiliki emosi dan pikirannya sendiri.
Efek pola asuh autoritatif terhadap perilaku belajar anak:
a. Anak lebih mandiri, tegas terhadap diri sendiri dan memiliki kemampuan introspeksi serta pengendalian diri.
b. Mudah bekerjasama dengan orang lain dan kooperatif terhadapo aturan.
c. Lebih percaya diri akan kemampannya menyelesaikan tugas-tugas.
d. Mantap, merasa aman dan menyukai serta semangat dalam tugas-tugas belajar.
e. Memiliki keterampilan sosial yang baik dan trampil menyelesaikan permasalahan.
f. Tampak lebih kreatif dan memiliki motivasi berprestasi.
Menyepakati pola asuh yang paling efektif dalam keluarga adalah penting, karena pola asuh pada tahun-tahun awal kehidupan seseorang akan melandasi kepribadiannya dimasa datang. Perilaku dewasa dan ciri kepribadian dipengaruhi oleh berbagai peristiwa yang terjadi selama tahun-tahun awal kehidupan, artinya antara masa anak dan dewasa memiliki hubungan berkesinambungan.
Dengan mengetahui bagaimana pengalaman membentuk seorang individu, akan menjadikan kita lebih bijaksana dalam membesarkan anak-anak kita. Banyak masalah yang dihadapi disekolah (agresi, ketidakramahan, negativistik, dan beragam gangguan kesulitan belajar) mungkin dapat dihindari bila kita lebih memahami perilaku anak dan sikap orang tua mempengaruhi anak-anaknya, serta bagaimana menanganinya pada usia dini. Sebagai orang tua perlu mengetahui tugas-tugas perkembangan anak pada tiap usianya, untuk mempermudah penerapan pola pendidikan dan mengetahiu kebutuhan optimalisasi perkembangan anak .
Tugas perkembangan adalah suatu tugas yang muncul pada saat atau suatu periode tertentu yang jika berhasil akan menimbulkan rasa bahagia dan membawa kearah keberhasilan dalam melaksanakan tugas berikutnya, tetapi kalau gagal akan menimbulkan rasa tidak bahagia dan kesulitasn dalam menjalankan tugas-tugas berikutnya. Perkembangan manusia dikelompokan menjadi, Masa prenatal, Masa bayi, Masa kanak-kanak, Masa puber, Masa remaja, Masa dewasa. Tugas perkembangan yang menitik beratkan pada pendidikan yaitu diusia kanak-kanak, puber dan remaja. Setiap tahap perkembangan memilki tugas belajarnya sendiri, mulai dari tugas belajar untuk perkembangan motorik, intelektual, sosial, emosi dan kreativitas. Setiap tahap perkembangan anak ada tugas-tugas yang harus dilewati dan ada kebutuhan yang harus dipenuhi, sehingga orang tua dapat lebih realistis dalam menerapkan suatu pengajaran dan lebih memahaminya .
Tugas-tugas perkembangan sepanjang rentang kehidupan menurut Havighust):
Masa bayi dan awal masa kanak-kanak:
Belajar memakan makanan padat
Belajar berjalan
Belajar berbicara
Belajar mengendalikan pembuangan kotoran tubuh
Mempelajari perbedaan jenis kelamin dan tata caranya
Mempersiapkan diri untuk belajar membaca
Belajar membedakan benar dan salah, dan mulai mengembangkan hati nurani.
Akhir masa kanak-kanak :
Mempelajari keterampilan fisik yang diperlukan untuk permainan-permainan yang umum
Membangun sikap yang sehat mengenai diri sendiri sebagai mahluk yang sedang tumbuh
Belajar menyesuaikan diri dengan teman seusianya
Mulai mengembangkan peron sosial pria dan wanita yang tepat
Mengembangkan keterampilan- keterampilan dasar untuk membaca, menulis dan berhitung
Mengembangkan pengertian-pengertian yang diperlukan untuk hidup sehari-hari
Mengembangkan hati nurani, pengertian moral, dan tata tingkatan nilai
Mengembangkan sikap terhadap kelompok sosial dan lembaga-lembaga
Mencapai kebebasan pribadi
Remaja :
Mencapai hubungan baru dan yang lebih matang dengan teman sebaya baik pria maupun wanita
Mencapai peran sosial pria dan wanita
Menerima keadaan fisik dan menggunakan tubuhnya secara efektif
Mengharapkan dan mencapai perilaku social yang bertanggung jawab
Mencapai kemandirian emosional dari orang tua dan orang dewasa lainnya
Mempersiapkan karir ekonomi
Mempersiapkan perkawinan dan keluarga
Memperoleh peringkat nilai dan etis sebagai pegangan untuk berperilaku mengembnagkan ideology.
D. MENUMBUHKAN KEPRIBADIAN SEORANG PESERTA DIDIK
Motivasi berkaitan engan karakter seseorang. Hubungan antara keduanya digambarkan oleh Stoltz (dalam Soedarsono, 2006: 88-91) sebagai pendaki gunung yang digolongkan menjadi tiga, yaitu mereka yang berhenti (quitters), berkemah (campers), dan mereka yang terus mendaki (climbers). Quitters adalah orang-orang yang takut sebelum melaksanakan sesuatu (memilih menghindari kewajiban, mundur, dan berhenti). Mereka golongan orang yang kalah sebelum bertanding, tak mau mengambil kesempatan yang membentang. Campers adalah orang-orang yang memutuskan berhenti di tengah jalan dan memilih berteduh atau berkemah karena merasa sudah puas. Bagi kelompok ini, tidak ada lagi dorongan untuk terus mendaki ketika di hadapannya telah terhampar tempat datar dan nyaman sebagai tempat bersembunyi dari situasi yang tidak bersahabat. Campers merupakan golongan yang telah berusaha meskipun hanya untuk mencapai posisi pada tingkat tertentu saja. Posisi inila yang disebut sebagai sebuah kesuksesan. Bagi para campers, kesuksesan adalah sebuah hasil, oleh karena itulah mereka berhenti ketika sampai pada titik ini. Climbers adalah mereka yang sepanjang hidupnya terus berusaha untuk mendaki, meskipun mereka tahu betapa susahnya mencapai puncak. Mereka tak terhalang oleh umur, jenis kelamin, kecacatan fisik dan mental, dan hambatan lain apapun. Dalam pandangan mereka, kesuksesan adalah proses yang tak ada habisnya. Mereka meyakini manfaat-manfaat jangka panjang yang akan diperolehnya. Sekecil apapun yang dilakukan pada saat sekarang ini akan berpengaruh pada kemajuan yang diperolehnya di kemudian hari.Quitters merupakan golongan orang dengan karakter terlemah yang ditunjukkan dengan rendahnya motivasi. Campersadalah golongan orang dengan tingkat karakter yang cukup tinggi, karena mereka menunjukkan pengorbanan-pengorbanan tertentu untuk mencapai kesuksesan. Sedangkan climbers adalah golongan dengan karakter yang paling kuat, yang ditunjukkan dengan usaha terus menerus guna memperoleh kesuksesan yang tak ada titik akhirnya. Jika ilustrasi pendaki gunung tersebut diimplementasikan dalam dunia pendidikan, maka menjadi kewajiban bagi pendidik dan tenaga kependidikan di setiap satuan pendidikan untuk membentuk peserta didik menjadi para climbers, meminimalisasi proses menjadi campers, dan menghilangkan etos budaya sebagai quitters.Kesuksesan bagi peserta didik adalah prestasi. Prestasi adalah sesuatu yang harus terus menerus di kejar, karena prestasi hendaklah dipandang sebagai proses, dan tak cukup hanya sekadar dipandang sebagai hasil.Sebagai sebuah proses, prestasi senantiasa diusahakan secara terus menerus melalui berbagai sumber belajar. Sumber belajar sebagai sumber prestasi tak hanya terbatas ada pada diri guru, buku-buku paket dan buku ajar, tetapi jauh lebih luas ada di buku-buku referensi, media massa, masyarakat, alam sekitar, bahkan di internet. Proses-proses yang selama ini terjadi, yang seolah-olah menjadikan guru sebagai satusatunya sumber belajar dan menjadikan buku paket dan buku ajar sebagai “kitab suci” (karena telah dijadikan semacam buku wajib) telah memberikan kontribusi bagi proses pengkerdilan atau pembonsaian karakter peserta didik untuk berprestasi lebih jauh.Sudah bukan lagi saatnya sekarang ini untuk memandang prestasi peserta didik hanya dengan ukuran angka-angka (skor) hasil belajar, apalagi jika yang diukur secara kuantitatif adalah segala sesuatu yang hanya bersifat kognitif. Pendidikkan adalah proses kemanusiaan yang menyeluruh, tidak hanya mengedepankan olah pikir, tetapi juga olah raga, olah rasa, dan olah hati. Oleh karena itulah maka karakter yang dikembangkan juga tidak hanya kebajikan (virtues) yang terkait dengan pengembangan pikir. Tak dapat dipungkiri bahwa keterbatasan waktu di lingkungan sekolah memang menjadi salah satu kendala bagaimana menanamkan karakter menyeluruh mengenai kualitas manusia Indonesia yang tergambar dalam tujuan pendidikan nasional. Oleh karena itulah dibutuhkan strategi dan langkahlangkah yang sistematis untuk mewujudkannya.Beberapa langkah yang dapat dilakukan oleh satuan pendidikan antara lain adalah:
Membangun komitmen bersama
Salah satu titik lemah dalam penanaman pendidikan karakter adalah komitmen. Komitmen penanaman pendidikan karakter idealnya adalah komitmen bersama, artinya semua warga sekolah, utamanya kepala sekolah, para pendidik, dan semua tenaga kependidikan harus membangun tekad bersamasama untuk mewujudkan kekuatan karakter pada diri siswa. Hal ini menjadi kunci utama, karena jika hanya minoritas warga sekolah yang memiliki komitmen, apalagi hanya seorang kepala sekolah maka upaya itu tak akan berhasil.Tahap inilah yang justru menjadi titik lemah proses yang selama ini terjadi. Mayoritas warga sekolah dalam melaksanakan tugasnya sebagai pendidik hanya sekadar menggugurkan kewajiban belaka. Para pendidik seolaholah hanya bertindak sebagai “tukang”, masuk kelas, menyampaikan bahan ajar sesuai KD, ulangan, membuat laporan nilai rapor, dan selesai. Oleh karena itulah, maka perlu dibangun kesadaran yang setinggi-tinginya bahwa dunia pendidikan adalah dunia Sumber Daya Manusia. Proses-proses yang berlangsung di dalamnya tidak boleh disamakan dengan proses-proses di dunia perusahaan yang memproses barang atau jasa. Kekeliruan dalam proses pendidikan bisa berakibat fatal, karena akibatnya menyangkut nilai-nilai kemanusiaan, masa depan generasi dan bangsaWarga sekolah perlu dibangunkan kesadarannya bahwa rendahnya prestasi yang dicapai sebagian besar peserta didik antara lain disebabkan karena lemahnya karakter peserta didik yang cenderung mudah putus asa, takut menghadapi tantangan, tidak suka bekerja keras, tidak percaya diri, kurang cermat, kurang disiplin, suka menikmati kemapanan, dan sebagainya. Prestasi secara perlahan namun pasti bisa diraih jika dalam diri peserta didik telah ditanamkan hasrat untuk berubah.
Merumuskan nilai-nilai karakter yang realistis
Setelah komitmen bersama terbangun dengan baik, maka dilakukanlah proses penyusunan perencanaan, yaitu perencanaan yang realistis, tidak mengada-ada. Karena jika rumusan perencanaannya mengada-ada maka akan sulit dilaksanakan. Perencanaan tersebut harus tertuang dalam Kurikulum Sekolah (KTSP), baik dalam dokumen 1 maupun dokumen 2. Perencanaan juga harus dibuat secara sistematis, artinya menunjukkan keterkaitan mulai dari visi, misi, tujuan jangka panjang, tujuan jangka menengah, tujuan jangka pendek, rumusan dalam silabus, dan rumusan dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran. Tak kalah pentingnya, rumusan perencanaan tersebut juga harus tertuang dalam setiap rencana kegiatan pada masing-masing cabang Pengembangan Diri.
Penanaman dan pemeliharaan nilai-nilai karakter
Tahap ini merupakan tahap yang paling krusial, karena menjadi tahap paling menentukan apakah penanaman nilai karakter itu berlangsung dengan baik atau tidak. Sebagamana yang tertuang dalam buku Pengembangan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa, maka pelaksanaannya harus dilakukan secara terpadu dalam tiga jalur sekaligus, yaitu jalur pengembangan diri, jalur pembelajaran melalui mata pelajaran, dan jalur budaya sekolah.Penanaman nilai tentu tidak dapat hanya dilakukan dalam satu atau dua kali kegiatan, tetapi merupakan kegiatan yang terus-menerus, dan bahkan berulang-ulang. Nilai adalah sesuatu yang bersifat gradual, mulai dari tingkat terendah hingga tingkat tertinggi, penghayatannya pun senantiasa mengalami pasang surut. Maka prinsip pengulangan dan prinsip kesinambungan menjadi sangat penting dalam proses penanamannya.Jika fase penanaman telah berlangsung dengan baik, langkah selanjutnya adalah pemeliharaan. Inilah yang terkadang terlupakan. Pemeliharaan merupakan kegiatan untuk mempertahankan kondisi yang telah terbentuk agar tidak mengalami degradasi nilai. Proses ini antara dapat dilakukan melali penerapan sistem punishmen and reward, monitoring, dan pembimbingan.
Evaluasi, refleksi dan rencana tindak lanjut
Langkah evaluasi, refleksi, dan penyusunan rencana tindak lanjut merupakan langkah terakhir yang juga penting. Evaluasi dan refleksi dilakukan untuk menilai apakah rencana yang telah disusun dapat terlaksana dengan baik dan memenuhi asas ketercukupan. Jawaban atas hasil evaluasi dan refleksi akan dirumuskan ke dalam rencana tindak lanjut yang selanjutnya dilaksanakan pada masa-masa selanjutnya.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Kepribadian merupakan kesatuan yang kompleks, yang terdiri ats psikis, seperti inteligensi, sifat, sikap, minat, cita-cita dan sebagainya, serta aspek fisik, seperti bentuk tubuh, kesehatan jasmani, dan sebagainya. kepribadian anak dipengaruhi oleh banyak factor, dan salah satunya ialah peranan orang tua dalam rangka membimbing, mengarahkan, dan memberikan jalan keluar terhadap permasalahan yang sedang dihadapi oleh anak, karena orang tua merupakan orang yang paling dekat dengan anak-anak sehingga akan mudah untuk memahami kepribadiannya.Pada umumnya para pendidik dalam membangun prestasi belajar peserta didiknya adalah melalui seruan-seruan untuk belajar dengan giat, melalui pembimbingan dan pengajaran. Namun upaya-upaya tersebut seringkali menemui kegagalan, bahkan peserta didik sering mengkompensasi kegagalannya dalam prestasi melalui kegiatan-kegiatan negatif. Oleh karena itulah maka perlu dibangun budaya baru dalam dunia pendidikan yakni membangun karakter (characrter building) yang kuat, yakni disiplin, jujur, tanggung jawab, pantang menyerah, percaya diri, tidak mudah putus asa, dan sebagainya. Karena melalui pembangunan budaya seperti itu maka motivasi berprestasi di kalangan peserta didik dapat dikondisikan dengan baik. Mungkin perlu waktu yang lebih lama, tetapi cenderung akan terinternalisasi lebih mendalam pada diri setiap peserta didik.Tentu saja membangun motivasi berprestasi melalui optimalisasi pendidikan karakter di sekolah bukan pekerjaan yang mudah, karena dibutuhkan strategi dan langkah-langkah yang sistematis. Langkah yang dipandang menjadi fondasi adalah bagaimana membangun komitmen secara bersama-sama. Selanjutnya dilakukanlah perumusan perencanaan yang realistis, kemudian diikuti dengan komitmen pelaksanaannya, dan proses evaluasi-refleksi secara terus-menerus guna menyusjn rencana tindak lanjut.
DAFTAR PUSTAKA
Prof.Dr.Koentjaraningrat, pengantar ilmu antropologi, PT Rineka Cipta, Jakarta, hal 82-83
Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan dengan pendekatan Baru, PT Remaja Rosdakarya, Bandung, hal 41
Drs. Ujam Jaenudin, Psikologi Kepribadian, CV Pustaka Setia, Bandung 2012, hal 116-118
http://ainamulyana.blogspot.com/2012/02/kepribadian-anak.html.
Ujam Jaenudin, Psikologi Kepribadian, Pustaka Setia, Bandung, 2012, hal 235-236
Edy Sutrisno, Membangun Motivasi Berprestasi Peserta Didik Melalui Optimalisasi Pendidikan Berkarakter, Vol 3, No 2
Disusun Guna Memenuhi Tugas Akhir Semester Ganjil
Mata Kuliah : Sosiologi dan Antropologi Dakwah
DosenPengampu : Masudi, S. Fil.I M.A
DisusunOleh :
Ika Yuliyaning tiyas (1740210067)
KPI-B3
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGRI KUDUS
DAKWAH DAN KOMUNIKASI
KOMUNIKASI PENYIARAN ISLAM
2018
BAB I
PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG MASALAH
Manusia adalah makhluk yang sulit di pahami karena keunikannya. Dengan keunikannya manusia adalah makhluk yang berbeda dari makhluk yang lain. Bagaimanapun sulitnya manusia tak pernah berhenti berusaha menemukan jawaban yang dicarinya dan selalu mencari tahu dan tidak pernah puas dengan pengetahuan-pengetahuan yang diperolehnya, termasuk pengetahuan tentang dirinya sendiri atau sesamanya. Sekian banyak upaya yang telah diarahkan untuk memahami manusia tetapi tidak semua upaya membawa hasil, namun upaya pemahaman tentang manusia tetap memiliki arti penting dan tetap harus di laksanakan. Bisa dikatakan bahwa kualitas hidup manusia, tergantung kepada peningkatan pemahaman kita tentang manusia.
Kepribadian adalah gambaran cara seseorang bertingkah laku terhadap lingkungan sekitanya, yang terlihat dari kebiasaan berfikir, sikap dan minat, serta pandangan hidupnya yang khas untuk mempunyai keajegan. Karena dalam kehidupan manusia sebagai individu ataupun makhluk social, kepribadian senantiasa mengalami warna-warni kehidupan.Ada kalanya senang, tentram, dan gembira.Akan tetapi pengalaman hidup membuktikan bahwa manusia juga kadang-kadang mengalami hal-hal yang pahit, gelisah, frustasi dan sebagainya.Ini menunjukan bahwa manusia mengalami dinamika kehidupan.
Kepribadian sangat mmencerminkan perilaku seseorang. Kita bisa tahu apa yang sedang diperbuat seseorang dalam situasi tertentu berdasarkan dpengalamn diri kita sendiri. Hal ini karena dalam banyak segi, setiap orang adalah unik, khas. Oleh karena itu kita membutuhkan sejenis kerangka acuan untuk memahami dan menjelaskan tingkah laku diri sendiri dan orang lain. Kita harus memahami definisi kepribadian serta bagaiman kepribadian itu terbentuk.Untuk itu kita membutuhkan teori-teori tingkah laku, teori kepribadian agar gangguan-gangguan yang biasa muncul pada kepribadian setiap individu dapat dihindari.
Mempelajari kepribadian merupakan hal yang menarik karena dinamika pengetahuan mengenai diri kita sendiri secara otomatis akan bertambah. Hal ini karena hakikatnya manusia adalah yang ada dan tumbuh berkembang dengan kepribadian yang menyertai setiap langkah dalam hidupnya.
RUMUSAN MASALAH
Apa pengertian kepribadian?
Apa faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan kepribadian?
Apa peranan sekolah dan keluarga dalam optimalisasi perkembangan kepribadian diusia anak dan remaja ?
Bagaimana menumbuhkan kepribadian seorang peserta didik?
TUJUAN PENULISAN
Untuk mengetahui pengertian kepribadian
Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan kepribadian
Untuk mengetahui peranan sekolah dan keluarga dalam optimalisasi perkembangan kepribadian diusia anak dan remaja
Untuk mengetahui pertumbuhan kepribadian seorang peserta didik
BAB II
PEMBAHASAN
PENGERTIAN KEPRIBADIAN
Para ahli biologi yang mempelajari dan membuat suatu deskripsi mengenai sistem organ suatu jenis spesies binatang, biasanya juga sekaligus mempelajari kelakuan binatang-binatang itu. Deskripsi mengenai pola-pola kelakuan binatang-binatang itu seperti kelakuan mencari makan, menghindari ancaman bahaya, menyerang musuh, beristirahat, mencari betina pada masa birahi, bersetubuh, mencari tempat untuk melahirkan, memelihara dan melindungi keturunannya dan sebagainya biasanya berlaku untuk seluruh spesies yang menjadi obyek perhatiannya.
Berbeda halnya dengan makhluk manusia yang dipelajari secara intensif hingga detail oleh para ahli biologi, anatomi, fisiologi, patologi dan para dokter, tetapi belum banyak diketahui pola-pola kelakuannya. Pola-pola kelakuan yang berlaku untuk seluruh jenis homo Sapiens hampir tidak ada, bahkan untuk semua individu manusia yang termasuk satu ras pun, seperti ras Mongoloid, ras Kaukasoid, ras Negroid, atau ras Australoid, tidak ada suatu sistem pola kelakuan yang seragam. Ini disebabkan karena kelakuan manusia homo Sapiens tidak hanya timbul dari dan ditemukan oleh sistem organik biologinya saja, tetapi sangat dipengaruhi dan ditentukan oleh akal dan jiwanya, sedemikian rupa sehingga variasi pola kelakuan antara seorang individu homo Sapiens dengan individu homo Sapiens lainnya, dapat sangat besar. Malahan, pola kelakuan tiap manusia secara individual sebenarnya unik dan berbeda. Karena itu para ahli antropologi, sosiologi dan psikologi yang mempelajari pola-pola kelakuan manusia ini juga tidak lagi bicara mengenai pola-pola kelakuan atau patterns of behavior dari manusia, tetapi mengenai pola-pola tingkah laku, atau pola-pola tindakan. Apabila seorang ahli antropologi, sosiologi atau psikolog berbicara mengenai pola kelakuan manusia, maka yang dimaksudnya adalah kelakuan dalam arti sangat luas yaitu kelakuan organisme manusia yang ditentukan oleh naluri, dorongan-dorongan, refleks-refleks atau kelakuan manusia yang tidak lagi dipengaruhi dan ditentukan oleh akal dan jiwanya.
Susunan unsur-unsur akal dan jiwa yang menentukan perbedaan tingkah laku atau tindakan dari tiap-tiap individu manusia itu disebut kepribadian atau personality. Definisi mengenai kepribadian tersebut masih sangat kasar sifatnya, dan tidak banyak berbeda dengan arti yang diberikan pada konsep itu pada kehidupan sehari-hari. Dalam bahasa populer istilah kepribadian juga berarti ciri-ciri watak seorang individu yang konsisten. Hal itu memberikan kepadanya suatu identitas sebagai individu yang khusus. Sedangkan dalam bahasa sehari-hari kita anggap bahwa seorang tertentu mempunyai kepribadian, memang yang biasanya kita maksudkan ialah bahwa orang tersebut mempunyai beberapa ciri watak yang diperlihatkannya secara lahir, konsisten, dan konsekuen dalam tingkah lakunya sehingga tampak bahwa individu tersebut memiliki identitas khusus yang berbeda dari individu-individu lainnya. Kalau definisi umum yang banyak menyerupai arti konsep dalam bahasa sehari-hari tersebut hendak kita pertajam, maka akan timbul banyak kesukaran. Hal itu sudah banyak dilakukan oleh para ahli psikologi yang memang merupakan tugas mereka, namun tidak ada satu definisi yang tajam dan seragam diantara para ahli psikologi yang berasal dari berbagai aliran khusus dalam ilmu psikologi. Konsep kepribadian itu rupa-rupanya adalah suatu konsep yang demikian luas sehingga merupakan suatu konstruksi yang tidak mungkin dirumuskan dalam satu definisi yang tajam tetapi mencakup keseluruhannya. Karena itu bagi kita yang belajar antropologi cukuplah kiranya kalau untuk sementara kita pergunakan saja dahulu definisi yang masih kasar itu. Sedangkan penggunaan definisi-definisi yang lebih tajam untuk analisis yang lebih mengkhusus dan mendalam kita serahkan kepada para ahli psikologi.
Ahli yang telah merumuskan definisi kepribadian berdasarkan paradigama yang mereka yakini dn focus analisis dari teori yang mereka berkembang. Berikut ini adalah pendapat beberapa ahli yang definisinya dapat dipakai acuan dalam mempelajari kepribadian:
Gordon W. W. Allport
Pada mulanya, Allport mendefinisikan kepribadian sebagai What a man really is, tetapi definisi tersebut dipandang tidak memadai lalu dia merevisinya. Definisi yang kemudian dirumuskan oleh Alport adalah kepribadian adalah organisasi dinamis dalam individu sebagai system psikofisis yang menentukan cara yang khas dalam menyesuaikan diri terhadap lingkungan.
Krech dan Crutchfield
David Krech dan Richard S. Crutchfield (1969) dalam bukunya Elements of Psychology merumuskan kepribadian, adalah integrasi dari semua karakteristik individu ke dalam suatu kesatuan unik yang menentukan dan dimodifikasi oleh usaha-usahanya dalam menyesuaikan diri terhadap lingkungan yang berubah terus-menerus.
Adolf Heuken S.J
Kepribadian adalah pola menyeluruh semua kemampuan, perbuatan serta kebiasaan seseorang, baik jasmani, mental, rohani, emosional maupun social.Semua ini telah ditata dalam caranya yang khas di bawah berbagai pengaruh dari luar.Pola ini terwujud dalam tingkah lakunya, dalam usaha menjadi manusia sebagaimana yang dikhendakinya.
Berdasarkan semua definisi tersebut, dapat disimpulkan pokok-pokok pengertian kepribadian sebagai berikut:
Kepribadian merupakan kesatuan yang kompleks, yang terdiri ats psikis, seperti inteligensi, sifat, sikap, minat, cita-cita dan sebagainya, serta aspek fisik, seperti bentuk tubuh, kesehatan jasmani, dan sebagainya.
Kesatuan dari kedua aspek tersebut berinteraksi dengan lingkungannya yang mengalami perubahan secara terus menerus dan terwujudlah pola tingkah laku yang khas atau unik
Kepribadian bersifat dinamis, artinya selalu mengalami perubahan, tetapi dalam perubahan tersebut terdapat pola-pola yang bersifat tetap
Kepribadian terwujud berkenaan dengan tujuan-tujuan yang ingin dicapai
Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan Kepribadian
Kepribadian itu berkembang dan mengalami perubahan-perubahan, tetapi di dalam perkembangan makin terbentuklah pola-pola yang tetap, sehingga merupakan ciri-ciri yang khas dan unik bagi setiap individu. Menurut Singgih D. Gunarsa, factor-faktor yang dapat mempengaruhi kepribadian seseorang adalah:
Factor Biologis, yaitu yang berhubungan dengan keadaan jasmani yang meliputi keadaan pencernaan, pernafsan, peresaran darah. Kelenjar kelenjar urat syaraf, dan lain-lain.
Factor social, yaitu masyarakat yakni manusia-manusia lain disekitar individu, adat istiadat, peraturan-peraturan, bahas, dan sebagainya yang berlaku dalam masyarakat itu
Factor kebudayaan, yaitu kebudayaan itu tumbuh dan berkembang didalam masyarakat dan tentunya kebudayaan dari tiap-tiap tempat yang berbeda akan berbeda pula kebudayaannya. Perkembangan dan pembentukan kepribadian dari masing-masing orang tidak dapat dipisahkan dari kebudayaan masyarakat dimana anak itu dibesarkan
Sedang menurut Husain Mazhari, factor-faktor yang membentuk kepribadian anak ada empat, yaitu :
Peranan cinta kasih dalam pembinaan kepribadian
Tidak menghina dan mengurangi hak anak
Perhatian pada perkembangan kepribadian
Menghindari penggunaan kata kotor
Masa kanak-kanak adalah masa yang paling peka bafi proses pembentukan kepribadian seorang yang akan mewarnai sikap, perilaku, dan pandangan hidupnya kelak dikemudian hari. Sedangkan, perkembangan kepribadian anak itu sendiri, dopengaruhi oleh lingkungan tempat anak itu hidup dna berkembang. Diantara factor lingkungan yang paling berpengaruh bagi perkembangan kepribadian anak adalah orang tua yang mengasuh dan membimbingnya beserta suasana kehidupan yang dibina. Dalam konteks lingkungan keluarga inilah, maka kehadiran orang tua akan mempengaruhi dan mewarnai proses pembentukan kepribadian anak selanjutnya.
Menurut Ngalim Purwanto ada beberapa alasan pentingnya orang tua, terutama ibu dan ayah bagi pembentukan kepribadian anak, yakni:
Pengaruh itu merupakan pengalaman yang pertama-tama.
Pengaruh yang diterima anak itu batas dan jumlahnya.
Intensitas pengaruh itu tinggi karena berlangsung terus menerus siang dan malam.
Umumnya pengaruh itu diterima dalam suasana aman serta bersifat intim dan bernada emosional.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa kepribadian anak dipengaruhi oleh banyak factor, dan salah satunya ialah peranan orang tua dalam rangka membimbing, mengarahkan, dan memberikan jalan keluar terhadap permasalahan yang sedang dihadapi oleh anak, karena orang tua merupakan orang yang paling dekat dengan anak-anak sehingga akan mudah untuk memahami kepribadiannya.
PERANAN SEKOLAH DAN KELUARGA DALAM OPTIMALISASI PERKEMBANGAN KEPRIBADIAN DI USIA ANAK DAN REMAJA
Pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara keluarga masyarakat dan pemerintah. Sehingga orang tua tidak boleh menganggap bahwa pendidikan anak hanyalah tanggung jawab sekolah. Pendidikan merupakan suatu usaha manusia untuk membina kepribadiannya agar sesuai dengan norma-norma atau aturan di dalam masyaratakat. Setiap orang dewasa di dalam masyarakat dapat menjadi pendidik, sebab pendidik merupkan suatu perbuatan sosial yang mendasar untuk petumbuhan atau perkembangan anak didik menjadi manusia yang mampu berpikir dewasa dan bijak.
Orang tua sebagai lingkungan pertama dan utama dimana anak berinteraksi sebagai lembaga pendidikan yang tertua, artinya disinilah dimulai suatu proses pendidikan. Sehingga orang tua berperan sebagai pendidik bagi anak-anaknya. Lingkungan keluarga juga dikatakan lingkungan yang paling utama, karena sebagian besar kehidupan anak di dalam keluarga, sehingga pendidikan yang paling banyak diterima anak adalah dalam keluarga. Menurut Hasbullah, dalam tulisannya tentang dasar-dasar ilmu pendidikan, bahwa keluarga sebagai lembaga pendidikan memiliki beberapa fungsi yaitu fungsi dalam perkembangan kepribadian anak dan mendidik anak dirumah; fungsi keluarga/orang tua dalam mendukung pendidikan di sekolah.
Fungsi keluarga dalam pembentukan kepribadian dan mendidik anak di rumah:
Sebagai pengalaman pertama masa kanak-kanak menjamin kehidupan emosional anak menanamkan dasar pendidikan moral anak memberikan dasar pendidikan sosial meletakan dasar-dasar pendidikan agama bertanggung jawab dalam memotivasi dan mendorong keberhasilan anak.
Memberikan kesempatan belajar dengan mengenalkan berbagai ilmu pengetahuan dan keterampilan yang berguna bagi kehidupan kelak sehingga ia mampu menjadi manusia dewasa yang mandiri.
Menjaga kesehatan anak sehingga ia dapat dengan nyaman menjalankan proses belajar yang utuh.
Kebahagiaan dunia dan akhirat dengan memberikan pendidikan agama sesuai ketentuan Allah Swt, sebagai tujuan akhir manusia.
Fungsi keluarga/ orang tua dalam mendukung pendidikan anak di sekolah :
Orang tua bekerjasama dengan sekolah, sikap anak terhadap sekolah sangat di pengaruhi oleh sikap orang tua terhadap sekolah, sehingga sangat dibutuhkan kepercayaan orang tua terhadap sekolah yang menggantikan tugasnya selama di ruang sekolah.
Orang tua harus memperhatikan sekolah anaknya, yaitu dengan memperhatikan pengalaman-pengalamannya dan menghargai segala usahanya.
Orang tua menunjukkan kerjasama dalam menyerahkan cara belajar di rumah, membuat pekerjaan rumah dan memotivasi dan membimbimbing anak dalam belajar.
Orang tua bekerjasama dengan guru untuk mengatasi kesulitan belajar anakorang tua bersama anak mempersiapkan jenjang pendidikan yang akan dimasuki dan mendampingi selama menjalani proses belajar di lembaga pendidikan.
Untuk dapat menjalankan fungsi tersebut secara maksimal, sehingga orang tua harus memiliki kualitas diri yang memadai, sehingga anak-anak akan berkembang sesuai dengan harapan. Artinya orang tua harus memahami hakikat dan peran mereka sebagai orang tua dalam membesarkan anak, membekali diri dengan ilmu tentang pola pengasuhan yang tepat, pengetahuan tentang pendidikan yang dijalani anak, dan ilmu tentang perkembangan anak, sehingga tidak salah dalam menerapkan suatu bentuk pola pendidikan terutama dalam pembentukan kepribadian anak yang sesuai denga tujuan pendidikan itu sendiri untuk mencerdasakan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan YME dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.
Pendampingan orang tua dalam pendidikan anak diwujudkan dalam suatu cara-cara orang tua mendidik anak. Cara orang tua mendidik anak inilah yang disebut sebagai pola asuh. Setiap orang tua berusaha menggunakan cara yang paling baik menurut mereka dalam mendidik anak. Untuk mencari pola yang terbaik maka hendaklah orang tua mempersiapkan diri dengan beragam pengetahuan untuk menemukan pola asuh yang tepat dalam mendidik anak.
POLA ASUH OTORITATIVE (OTORITER)
Cenderung tidak memikirkan apa yang terjadi di kemudian hari ,fokus lebih pada masa kini. Untuk kemudahan orang tua dalam pengasuhan. Menilai dan menuntut anak untuk mematuhi standar mutlak yang ditentukan sepihak oleh orang tua. Pola asuh otoriter terhadap perilaku belajar anak :
Anak menjadi tidak percaya diri, kurang spontan ragu-ragu dan pasif, serta memiliki masalah konsentrasi dalam belajar.
Ia menjalankan tugas-tugasnya lebih disebabkan oleh takut hukuman.
Di sekolah memiliki kecenderungan berperilaku antisosial, agresif, impulsive dan perilaku mal adatif lainnya.
Anak perempuan cenderung menjadi dependen
POLA ASUH PERMISIVE (PEMANJAAN)
Segala sesuatu terpusat pada kepentingan anak, dan orang tua/pengasuh tidak berani menegur, takut anak menangis dan khawatir anak kecewa. Efek pola asuh permisif terhadap perilaku belajar anak :
Anak memang menjadi tampak responsif dalam belajar, namun tampak kurang matang (manja), impulsive dan mementingkan diri sendiri, kurang percaya diri (cengeng) dan mudah menyerah dalam menghadapi hambatan atau kesulitan dalam tugas-tugasnya, jarang perilakunya disekolah menjadi agresif.
POLA ASUH INDULGENT (PENELANTARAN)
Menelantarkan secara psikis, kurang memperhatikan perkembangan psikis anak, anak dibiarkan berkembang sendiri, orang tua lebih memprioritaskan kepentingannya sendiri karena kesibukan.
Efek pola asuh indulgent terhadap perilaku belajar anak :
Anak dengan pola asuh ini paling potensial telibat dalam kenakalan remaja seperti penggunaan narkoba, merokok diusia dini dan tindak kriminal lainnya.
Impulsive dan agresif serta kurang mampu berkonsentrasi pada suatu aktivitas atau kegiatan.
Anak memiliki daya tahan terhadap frustrasi rendah.
4. POLA ASUH AUTORITATIF (DEMOKRATIS)
Menerima anak sepenuh hati, memiliki wawasan kehidupan masa depan yang dipengaruhi oleh tinakan-tidakan masa kini, memprioritaskan kepentingan anak, tapi tidak ragu-ragu mengendalikan anak, membimbing anak kearah kemandirian, menghargai anak yang memiliki emosi dan pikirannya sendiri.
Efek pola asuh autoritatif terhadap perilaku belajar anak:
a. Anak lebih mandiri, tegas terhadap diri sendiri dan memiliki kemampuan introspeksi serta pengendalian diri.
b. Mudah bekerjasama dengan orang lain dan kooperatif terhadapo aturan.
c. Lebih percaya diri akan kemampannya menyelesaikan tugas-tugas.
d. Mantap, merasa aman dan menyukai serta semangat dalam tugas-tugas belajar.
e. Memiliki keterampilan sosial yang baik dan trampil menyelesaikan permasalahan.
f. Tampak lebih kreatif dan memiliki motivasi berprestasi.
Menyepakati pola asuh yang paling efektif dalam keluarga adalah penting, karena pola asuh pada tahun-tahun awal kehidupan seseorang akan melandasi kepribadiannya dimasa datang. Perilaku dewasa dan ciri kepribadian dipengaruhi oleh berbagai peristiwa yang terjadi selama tahun-tahun awal kehidupan, artinya antara masa anak dan dewasa memiliki hubungan berkesinambungan.
Dengan mengetahui bagaimana pengalaman membentuk seorang individu, akan menjadikan kita lebih bijaksana dalam membesarkan anak-anak kita. Banyak masalah yang dihadapi disekolah (agresi, ketidakramahan, negativistik, dan beragam gangguan kesulitan belajar) mungkin dapat dihindari bila kita lebih memahami perilaku anak dan sikap orang tua mempengaruhi anak-anaknya, serta bagaimana menanganinya pada usia dini. Sebagai orang tua perlu mengetahui tugas-tugas perkembangan anak pada tiap usianya, untuk mempermudah penerapan pola pendidikan dan mengetahiu kebutuhan optimalisasi perkembangan anak .
Tugas perkembangan adalah suatu tugas yang muncul pada saat atau suatu periode tertentu yang jika berhasil akan menimbulkan rasa bahagia dan membawa kearah keberhasilan dalam melaksanakan tugas berikutnya, tetapi kalau gagal akan menimbulkan rasa tidak bahagia dan kesulitasn dalam menjalankan tugas-tugas berikutnya. Perkembangan manusia dikelompokan menjadi, Masa prenatal, Masa bayi, Masa kanak-kanak, Masa puber, Masa remaja, Masa dewasa. Tugas perkembangan yang menitik beratkan pada pendidikan yaitu diusia kanak-kanak, puber dan remaja. Setiap tahap perkembangan memilki tugas belajarnya sendiri, mulai dari tugas belajar untuk perkembangan motorik, intelektual, sosial, emosi dan kreativitas. Setiap tahap perkembangan anak ada tugas-tugas yang harus dilewati dan ada kebutuhan yang harus dipenuhi, sehingga orang tua dapat lebih realistis dalam menerapkan suatu pengajaran dan lebih memahaminya .
Tugas-tugas perkembangan sepanjang rentang kehidupan menurut Havighust):
Masa bayi dan awal masa kanak-kanak:
Belajar memakan makanan padat
Belajar berjalan
Belajar berbicara
Belajar mengendalikan pembuangan kotoran tubuh
Mempelajari perbedaan jenis kelamin dan tata caranya
Mempersiapkan diri untuk belajar membaca
Belajar membedakan benar dan salah, dan mulai mengembangkan hati nurani.
Akhir masa kanak-kanak :
Mempelajari keterampilan fisik yang diperlukan untuk permainan-permainan yang umum
Membangun sikap yang sehat mengenai diri sendiri sebagai mahluk yang sedang tumbuh
Belajar menyesuaikan diri dengan teman seusianya
Mulai mengembangkan peron sosial pria dan wanita yang tepat
Mengembangkan keterampilan- keterampilan dasar untuk membaca, menulis dan berhitung
Mengembangkan pengertian-pengertian yang diperlukan untuk hidup sehari-hari
Mengembangkan hati nurani, pengertian moral, dan tata tingkatan nilai
Mengembangkan sikap terhadap kelompok sosial dan lembaga-lembaga
Mencapai kebebasan pribadi
Remaja :
Mencapai hubungan baru dan yang lebih matang dengan teman sebaya baik pria maupun wanita
Mencapai peran sosial pria dan wanita
Menerima keadaan fisik dan menggunakan tubuhnya secara efektif
Mengharapkan dan mencapai perilaku social yang bertanggung jawab
Mencapai kemandirian emosional dari orang tua dan orang dewasa lainnya
Mempersiapkan karir ekonomi
Mempersiapkan perkawinan dan keluarga
Memperoleh peringkat nilai dan etis sebagai pegangan untuk berperilaku mengembnagkan ideology.
D. MENUMBUHKAN KEPRIBADIAN SEORANG PESERTA DIDIK
Motivasi berkaitan engan karakter seseorang. Hubungan antara keduanya digambarkan oleh Stoltz (dalam Soedarsono, 2006: 88-91) sebagai pendaki gunung yang digolongkan menjadi tiga, yaitu mereka yang berhenti (quitters), berkemah (campers), dan mereka yang terus mendaki (climbers). Quitters adalah orang-orang yang takut sebelum melaksanakan sesuatu (memilih menghindari kewajiban, mundur, dan berhenti). Mereka golongan orang yang kalah sebelum bertanding, tak mau mengambil kesempatan yang membentang. Campers adalah orang-orang yang memutuskan berhenti di tengah jalan dan memilih berteduh atau berkemah karena merasa sudah puas. Bagi kelompok ini, tidak ada lagi dorongan untuk terus mendaki ketika di hadapannya telah terhampar tempat datar dan nyaman sebagai tempat bersembunyi dari situasi yang tidak bersahabat. Campers merupakan golongan yang telah berusaha meskipun hanya untuk mencapai posisi pada tingkat tertentu saja. Posisi inila yang disebut sebagai sebuah kesuksesan. Bagi para campers, kesuksesan adalah sebuah hasil, oleh karena itulah mereka berhenti ketika sampai pada titik ini. Climbers adalah mereka yang sepanjang hidupnya terus berusaha untuk mendaki, meskipun mereka tahu betapa susahnya mencapai puncak. Mereka tak terhalang oleh umur, jenis kelamin, kecacatan fisik dan mental, dan hambatan lain apapun. Dalam pandangan mereka, kesuksesan adalah proses yang tak ada habisnya. Mereka meyakini manfaat-manfaat jangka panjang yang akan diperolehnya. Sekecil apapun yang dilakukan pada saat sekarang ini akan berpengaruh pada kemajuan yang diperolehnya di kemudian hari.Quitters merupakan golongan orang dengan karakter terlemah yang ditunjukkan dengan rendahnya motivasi. Campersadalah golongan orang dengan tingkat karakter yang cukup tinggi, karena mereka menunjukkan pengorbanan-pengorbanan tertentu untuk mencapai kesuksesan. Sedangkan climbers adalah golongan dengan karakter yang paling kuat, yang ditunjukkan dengan usaha terus menerus guna memperoleh kesuksesan yang tak ada titik akhirnya. Jika ilustrasi pendaki gunung tersebut diimplementasikan dalam dunia pendidikan, maka menjadi kewajiban bagi pendidik dan tenaga kependidikan di setiap satuan pendidikan untuk membentuk peserta didik menjadi para climbers, meminimalisasi proses menjadi campers, dan menghilangkan etos budaya sebagai quitters.Kesuksesan bagi peserta didik adalah prestasi. Prestasi adalah sesuatu yang harus terus menerus di kejar, karena prestasi hendaklah dipandang sebagai proses, dan tak cukup hanya sekadar dipandang sebagai hasil.Sebagai sebuah proses, prestasi senantiasa diusahakan secara terus menerus melalui berbagai sumber belajar. Sumber belajar sebagai sumber prestasi tak hanya terbatas ada pada diri guru, buku-buku paket dan buku ajar, tetapi jauh lebih luas ada di buku-buku referensi, media massa, masyarakat, alam sekitar, bahkan di internet. Proses-proses yang selama ini terjadi, yang seolah-olah menjadikan guru sebagai satusatunya sumber belajar dan menjadikan buku paket dan buku ajar sebagai “kitab suci” (karena telah dijadikan semacam buku wajib) telah memberikan kontribusi bagi proses pengkerdilan atau pembonsaian karakter peserta didik untuk berprestasi lebih jauh.Sudah bukan lagi saatnya sekarang ini untuk memandang prestasi peserta didik hanya dengan ukuran angka-angka (skor) hasil belajar, apalagi jika yang diukur secara kuantitatif adalah segala sesuatu yang hanya bersifat kognitif. Pendidikkan adalah proses kemanusiaan yang menyeluruh, tidak hanya mengedepankan olah pikir, tetapi juga olah raga, olah rasa, dan olah hati. Oleh karena itulah maka karakter yang dikembangkan juga tidak hanya kebajikan (virtues) yang terkait dengan pengembangan pikir. Tak dapat dipungkiri bahwa keterbatasan waktu di lingkungan sekolah memang menjadi salah satu kendala bagaimana menanamkan karakter menyeluruh mengenai kualitas manusia Indonesia yang tergambar dalam tujuan pendidikan nasional. Oleh karena itulah dibutuhkan strategi dan langkahlangkah yang sistematis untuk mewujudkannya.Beberapa langkah yang dapat dilakukan oleh satuan pendidikan antara lain adalah:
Membangun komitmen bersama
Salah satu titik lemah dalam penanaman pendidikan karakter adalah komitmen. Komitmen penanaman pendidikan karakter idealnya adalah komitmen bersama, artinya semua warga sekolah, utamanya kepala sekolah, para pendidik, dan semua tenaga kependidikan harus membangun tekad bersamasama untuk mewujudkan kekuatan karakter pada diri siswa. Hal ini menjadi kunci utama, karena jika hanya minoritas warga sekolah yang memiliki komitmen, apalagi hanya seorang kepala sekolah maka upaya itu tak akan berhasil.Tahap inilah yang justru menjadi titik lemah proses yang selama ini terjadi. Mayoritas warga sekolah dalam melaksanakan tugasnya sebagai pendidik hanya sekadar menggugurkan kewajiban belaka. Para pendidik seolaholah hanya bertindak sebagai “tukang”, masuk kelas, menyampaikan bahan ajar sesuai KD, ulangan, membuat laporan nilai rapor, dan selesai. Oleh karena itulah, maka perlu dibangun kesadaran yang setinggi-tinginya bahwa dunia pendidikan adalah dunia Sumber Daya Manusia. Proses-proses yang berlangsung di dalamnya tidak boleh disamakan dengan proses-proses di dunia perusahaan yang memproses barang atau jasa. Kekeliruan dalam proses pendidikan bisa berakibat fatal, karena akibatnya menyangkut nilai-nilai kemanusiaan, masa depan generasi dan bangsaWarga sekolah perlu dibangunkan kesadarannya bahwa rendahnya prestasi yang dicapai sebagian besar peserta didik antara lain disebabkan karena lemahnya karakter peserta didik yang cenderung mudah putus asa, takut menghadapi tantangan, tidak suka bekerja keras, tidak percaya diri, kurang cermat, kurang disiplin, suka menikmati kemapanan, dan sebagainya. Prestasi secara perlahan namun pasti bisa diraih jika dalam diri peserta didik telah ditanamkan hasrat untuk berubah.
Merumuskan nilai-nilai karakter yang realistis
Setelah komitmen bersama terbangun dengan baik, maka dilakukanlah proses penyusunan perencanaan, yaitu perencanaan yang realistis, tidak mengada-ada. Karena jika rumusan perencanaannya mengada-ada maka akan sulit dilaksanakan. Perencanaan tersebut harus tertuang dalam Kurikulum Sekolah (KTSP), baik dalam dokumen 1 maupun dokumen 2. Perencanaan juga harus dibuat secara sistematis, artinya menunjukkan keterkaitan mulai dari visi, misi, tujuan jangka panjang, tujuan jangka menengah, tujuan jangka pendek, rumusan dalam silabus, dan rumusan dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran. Tak kalah pentingnya, rumusan perencanaan tersebut juga harus tertuang dalam setiap rencana kegiatan pada masing-masing cabang Pengembangan Diri.
Penanaman dan pemeliharaan nilai-nilai karakter
Tahap ini merupakan tahap yang paling krusial, karena menjadi tahap paling menentukan apakah penanaman nilai karakter itu berlangsung dengan baik atau tidak. Sebagamana yang tertuang dalam buku Pengembangan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa, maka pelaksanaannya harus dilakukan secara terpadu dalam tiga jalur sekaligus, yaitu jalur pengembangan diri, jalur pembelajaran melalui mata pelajaran, dan jalur budaya sekolah.Penanaman nilai tentu tidak dapat hanya dilakukan dalam satu atau dua kali kegiatan, tetapi merupakan kegiatan yang terus-menerus, dan bahkan berulang-ulang. Nilai adalah sesuatu yang bersifat gradual, mulai dari tingkat terendah hingga tingkat tertinggi, penghayatannya pun senantiasa mengalami pasang surut. Maka prinsip pengulangan dan prinsip kesinambungan menjadi sangat penting dalam proses penanamannya.Jika fase penanaman telah berlangsung dengan baik, langkah selanjutnya adalah pemeliharaan. Inilah yang terkadang terlupakan. Pemeliharaan merupakan kegiatan untuk mempertahankan kondisi yang telah terbentuk agar tidak mengalami degradasi nilai. Proses ini antara dapat dilakukan melali penerapan sistem punishmen and reward, monitoring, dan pembimbingan.
Evaluasi, refleksi dan rencana tindak lanjut
Langkah evaluasi, refleksi, dan penyusunan rencana tindak lanjut merupakan langkah terakhir yang juga penting. Evaluasi dan refleksi dilakukan untuk menilai apakah rencana yang telah disusun dapat terlaksana dengan baik dan memenuhi asas ketercukupan. Jawaban atas hasil evaluasi dan refleksi akan dirumuskan ke dalam rencana tindak lanjut yang selanjutnya dilaksanakan pada masa-masa selanjutnya.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Kepribadian merupakan kesatuan yang kompleks, yang terdiri ats psikis, seperti inteligensi, sifat, sikap, minat, cita-cita dan sebagainya, serta aspek fisik, seperti bentuk tubuh, kesehatan jasmani, dan sebagainya. kepribadian anak dipengaruhi oleh banyak factor, dan salah satunya ialah peranan orang tua dalam rangka membimbing, mengarahkan, dan memberikan jalan keluar terhadap permasalahan yang sedang dihadapi oleh anak, karena orang tua merupakan orang yang paling dekat dengan anak-anak sehingga akan mudah untuk memahami kepribadiannya.Pada umumnya para pendidik dalam membangun prestasi belajar peserta didiknya adalah melalui seruan-seruan untuk belajar dengan giat, melalui pembimbingan dan pengajaran. Namun upaya-upaya tersebut seringkali menemui kegagalan, bahkan peserta didik sering mengkompensasi kegagalannya dalam prestasi melalui kegiatan-kegiatan negatif. Oleh karena itulah maka perlu dibangun budaya baru dalam dunia pendidikan yakni membangun karakter (characrter building) yang kuat, yakni disiplin, jujur, tanggung jawab, pantang menyerah, percaya diri, tidak mudah putus asa, dan sebagainya. Karena melalui pembangunan budaya seperti itu maka motivasi berprestasi di kalangan peserta didik dapat dikondisikan dengan baik. Mungkin perlu waktu yang lebih lama, tetapi cenderung akan terinternalisasi lebih mendalam pada diri setiap peserta didik.Tentu saja membangun motivasi berprestasi melalui optimalisasi pendidikan karakter di sekolah bukan pekerjaan yang mudah, karena dibutuhkan strategi dan langkah-langkah yang sistematis. Langkah yang dipandang menjadi fondasi adalah bagaimana membangun komitmen secara bersama-sama. Selanjutnya dilakukanlah perumusan perencanaan yang realistis, kemudian diikuti dengan komitmen pelaksanaannya, dan proses evaluasi-refleksi secara terus-menerus guna menyusjn rencana tindak lanjut.
DAFTAR PUSTAKA
Prof.Dr.Koentjaraningrat, pengantar ilmu antropologi, PT Rineka Cipta, Jakarta, hal 82-83
Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan dengan pendekatan Baru, PT Remaja Rosdakarya, Bandung, hal 41
Drs. Ujam Jaenudin, Psikologi Kepribadian, CV Pustaka Setia, Bandung 2012, hal 116-118
http://ainamulyana.blogspot.com/2012/02/kepribadian-anak.html.
Ujam Jaenudin, Psikologi Kepribadian, Pustaka Setia, Bandung, 2012, hal 235-236
Edy Sutrisno, Membangun Motivasi Berprestasi Peserta Didik Melalui Optimalisasi Pendidikan Berkarakter, Vol 3, No 2
Komentar
Posting Komentar